Implementasi Kurikulum Merdeka tidak boleh berhenti pada aspek administratif atau teknis semata. Ia menegaskan bahwa filsafat pendidikan harus menjadi fondasi utama agar perubahan yang diusung benar-benar bermakna.
Pandangan ini patut menjadi perhatian serius. Selama ini, kebijakan pendidikan sering kali terjebak pada pergantian kurikulum, metode, atau perangkat ajar, tanpa diiringi pemahaman mendalam tentang tujuan hakiki pendidikan. Akibatnya, proses belajar hanya menjadi rutinitas formal yang kehilangan ruhnya.
Kurikulum Merdeka sejatinya membawa semangat baru: peserta didik diposisikan sebagai subjek aktif dalam pembelajaran. Ini merupakan lompatan paradigma yang penting. Namun, tanpa landasan filosofis yang kuat, konsep tersebut berisiko disalahartikan. Kebebasan belajar bisa berubah menjadi kebebasan tanpa arah, sementara guru kehilangan pijakan dalam membimbing siswa.
Di sinilah pentingnya pendekatan filosofis. Pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan, melainkan proses membentuk cara berpikir, sikap, dan karakter. Guru tidak hanya dituntut untuk “mengajar apa”, tetapi juga memahami “mengapa” dan “untuk apa” pembelajaran itu dilakukan. Tanpa kesadaran ini, pembelajaran akan kehilangan konteks dan relevansi.
Lebih jauh, tantangan terbesar dalam implementasi Kurikulum Merdeka terletak pada kesiapan guru. Kebebasan yang diberikan justru menuntut tanggung jawab lebih besar. Guru harus mampu berpikir reflektif, adaptif, dan kontekstual. Sayangnya, realitas di lapangan menunjukkan bahwa pemahaman filosofis ini masih belum merata.
Pelatihan guru pun kerap berfokus pada aspek teknis: bagaimana menyusun modul ajar, bagaimana menggunakan platform digital, atau bagaimana melakukan asesmen. Sementara itu, dimensi reflektif dan filosofis sering terabaikan. Padahal, tanpa fondasi ini, inovasi pendidikan hanya akan bersifat permukaan.
Dalam konteks pembangunan pendidikan nasional, integrasi filsafat menjadi kebutuhan mendesak. Indonesia tidak hanya membutuhkan generasi yang cerdas secara akademik, tetapi juga mampu berpikir kritis, memiliki nilai, dan memahami makna dari setiap proses belajar.
Kurikulum Merdeka adalah peluang besar. Namun, peluang ini hanya akan menjadi perubahan semu jika tidak diiringi dengan pendalaman filosofi pendidikan. Sudah saatnya kita tidak hanya berbicara tentang kurikulum, tetapi juga tentang arah dan tujuan pendidikan itu sendiri.
Karena pada akhirnya, pendidikan bukan sekadar menghasilkan lulusan, melainkan memanusiakan manusia. Dan filsafat adalah ruh yang memastikan proses itu tetap hidup dan bermakna. (Ditulis oleh Nurkholis seorang praktisi pendidikan).